Selasa, 28 Mei 2013

COMPLAINING LATTER

Diamond Watch Corporation
Jln. Tebet Raya No. 78, Tebet Raya 18797
Jakarta Selatan, Indonesia

                                                                                                                                                                    Marcury Tya
                                                                                                                                                    General Manager
                PT. Diamond Watch
Jakarta Selatan
May 28, 2013   

Karina Putri
The Manager of
PT. Cermin Makmur  
P.O BOX 211121
Denpasar, Bali
Indonesia  

Dear Mrs. Karina Putri,

We have ordered 50 glasses on May 25th 2013. And I have received that yesterday on 26th 2013. I regret that all of the glasses were broken.

The package containing the glasses was looked good, but when it was unpacking, all of the glasses were broken.

I’m very disappointed because this case.

To resolve the problem, I would appreciate your action to exchange the glasses or give back our money. I have enclosed the copy of buyer document, and guarantees.

I look forward to your reply and solution for my problem until 25th of June 2013. Please contact me at the above address or by phone (08999-xxxx)

Sincerely,
Ms. Marcury Tya


         

Senin, 03 Desember 2012

Pariwisata di Indonesia



Pariwisata adalah salah satu jenis indutri baru yang membatu pertumbuhan ekonomi dan persediaan tenaga kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga akan merealisasi industri-industri klasik seperti kerajinan tangan dan cendramata. Penginapan dan transportasi di pandang juga sebagai industri, ( Robert C. Lonati 2002:32). Dari pengertian pariwisata tersebut, banyak makna yang dapat di simpulkan. Tetapi, teori tersebut hanyalah menguatkan bentuk nyata dari pariwisata. Berbagai sektor yang dapat di ulas lebih jauh seperti dari sektor manajemen, jumlah turis yang datang, dan cara perawatan atau pengolahan tempat yang menjadi sarana untuk orang berpariwisata.


Di Indonesia, tempat pariwisata beraneka ragam. Negara tesebut di kenal dengan negara kepulauan, karena dalam satu negara terdapat beberapa pulau besar dan ribuan pulau kecil yang mengelilinginya. Sehingga, dari banyaknya jumlah pulau tersebut, beraneka ragam pula tempat wisata. Mengenai manajemen yang sudah ada di Indonesia sudah cukup baik, yang meliputi pemasarannya maupun pengolahan tempat wisata tersebut. Hanya saja, kelemahan dari manajemen tersebut adalah dari sistem transportasi. Banyak tempat wisata yang berada di daerah terpencil, tetapi memiliki keindahan yang luar biasa. Wisatawan asing maupun domestik perlu informasi lebih dari tempat-tempat tersebut. Dengan transportasi yang memadai juga membantu wisatawan tersebut tertarik untuk mengunjunginya. Sebagai contoh di DIY, dinas setempat menyediakan rute-rute tempat wisata dengan bus Transjogja sebagai akses untuk mempermudah wisatawan sampai ke tempat wisata yang akan di tuju. Selain itu, penyedia layanan seluler juga sudah membuat akses rute perjalanan melalui peta di internet. Hanya saja, fasilitas tersebut hanya sebatas untuk jalur mudik. Sehingga, rute pariwisata tertentu belum bisa di akses melalui fasilitas tersebut. Lain halnya, dengan Bali, meskipun provinsi tersebut masih dalam negara Indonesia. Wisata asing lebih mengenalnya sebagai Indonesia adalah Bali, sedangkan pengertian sebenarnya yaitu pulau Bali berada di dalam negara Indonesia. Oleh karena itu, ini adalah sebuah tugas baru bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengubah paradigma wisatawan asing terhadap pariwisata di Indonesia.


Wisatawan asing adalah devisa terbesar negara. Oleh karena itu, pengembangan dan pengolahan pariwisata di indonesia yang di sudah cukup baik, agar dapat di perbaiki sehingga lebih terpandang di kanca internasional. Dalam perawatan dan pengolahan tempat wisata juga tidak lepas dari keikut sertaan pemerintah dan pihak swasta. Karena saat ini telah adanya otonomi daerah, sehingga pemerintah pusat cukup memantau dan mempercayakan penanganannya kepada pemerintah daerah. Sedangkan pihak swasta bisa menjadi pendukung realisasinya, dengan menjadi sponsor maupun pemasaran tempat wisata itu sendiri. Bahkan dengan pengolahan tempat wisata, masyarakat sekitar juga dapat ikut serta. Seperti membuat cendramata dan makanan kuliner khas daerah setempat. Dengan ini, dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat dan pajak daerah. Jadi kesimpulannya, dari berbagai macam sektor yang ada pada pariwisata harus di kembangkan. Dari setiap sektor juga harus di sesuaikan dengan kemajuan zaman. Karena di Era modern saat ini, kemajuan teknologi juga semakin pesat. Ini berarti lebih mempermudah masyarakat dalam mengakses segala sesuatunya dengan kemajuan teknologi tersebut.

Rabu, 21 November 2012

Sarangan



Ketika liburan tiba, tepatnya saat Idhul Fitri 1 tahun yang lalu. Saya dan keluarga memutuskan untuk berkunjung dan menghabiskan waktu liburan ke rumah nenek di Solo. Perjalanan yang cukup menguras tenaga, karena melalui jalur darat dengan berkendaraan mobil pribadi dengan jarak tempuh kurang lebih 12 jam. Kemacetan sepanjang perjalanan pun tidak begitu menjadi permasalahan, karena kita dapat beristirahat dan singgah sejenak di tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Sesampainya disana, kami istirahat sejenak. Di lanjutkan dengan berkunjung kerumah saudara-saudara. Keesokan harinya, di desa tempat nenek tinggal, ada semacam tradisi yang di sebut “Sungkem”. Tradisi tersebut ada sejak puluhan tahun yang lalu. Sebenarnya tradisi ini biasa juga di lakukan masyarakat pada umumnya yang di namakan silaturahmi, hanya saja yang membedakan “Sungkem” yaitu seluruh warga desa tersebut berkumpul di rumah seseorang yang terpandang dalam jenjang sosialita, mendengarkan pidato tuan rumah tersebut, dan di akhiri dengan bercengkraman tangan satu dengan yang lainnya.



Sehari setelah tradisi “Sungkem” tersebut, saudara-saudara sebaya saya disana mengajak saya untuk berekreasi ke sebuah danau besar yang bernama “Sarangan”,sekilas mereka menceritakannya begitu menarik. Kami bergegas untuk melakukan perjalanannya. Karena di antara kami tidak ada yang begitu pandai mengendarai mobil, sedangkan jalur di perjalanan yang begitu terjal membuat kami memutuskan untuk berkendaraan sepeda motor. Jumlah kami 6 orang, sehingga pas untuk berboncengan. Perjalanan kurang lebih memakan waktu 3 jam. Perjalanan yang begitu melelahkan, setibanya kami disana, pemandangan yang pertama saya lihat yaitu kepadatan pada pintu masuk utama. Mungkin pada saat itu liburan serentak bagi hampir seluruh orang, sehingga tempat rekreasi menjadi padat. Tetapi, udara sejuk mengurangi rasa penat yang menyelimuti. Jagung bakar dan kacang rebus menambah kehangatan. Tiba-tiba salah satu saudara saya menarik saya untuk ikut menaiki speed boat untuk berkeliling danau tersebut. Awalnya saya menolak karena takut jika jatuh nantinya, kemudian setelah di bujuk, saya menerima tawaran tersebut. Dengan uang 100.000, kami dapat menaiki speed boat tersebut dengan 3 kali putaran. Dengan kecepatan tinggi, saya dapat berteriak sekencangnya menikmati sejuknya udara disana. Setelah selesai bermain, berwisata kuliner, dan menjajakan barang-barang cendra mata yang unik. Kami memulai perjalanan pulang, tidak begitu merasa lelah sepanjang perjalanan karena semua terbayarkan dengan pemandangan indah “Sarangan”.



Seminggu sudah saya dan keluarga berada di kota Solo, liburan pun hampir usai. Tidak ingin rasanya meninggalkan kota tersebut, terlebih banyak sanak saudara yang tinggal disana. Tetapi, kami juga memiliki aktifitas masing-masing. Seandainya kami memiliki waktu yang lebih lama untuk berlibur, pasti lebih banyak tempat-tempat pariwisata yang dapat kami kunjungi.

Selasa, 20 November 2012

GLOSARIUM PARIWISATA I

1. Adat : Aturan (perbuatan dsb) yg lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala.
2. Adat istiadat : Aneka kelaziman dalam suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat.
3. Budaya / Kebudayaan : Hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia.
4. Citra wisata : ekspresi, gambaran, atau bayangan semua yg diketahui secara objektif, kesan, praduga perseorangan atau kelompok mengenai tempat tujuan wisata kebudayaan, keindahan alam, dan hasil kerajinan daerah wisata tertentu.
5. Cuti : Meninggalkan pekerjaan beberapa waktu secara resmi untuk beristirahat dsb.
6. Daerah Transit (DT) : Daerah persinggahan antara Daerah Asal Wisata(DAW) dan Daerah Tempat Wisata(DTW) ketika para wisatawan melakukan perjalanan singkat untuk mencapai daerah tujuan.
7. Daya Tarik Wisata : Segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai berupa keanekaragaman, kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sarana atau tujuan kunjungan wisatawan.
8. Hotel : bangunan berkamar banyak yg disewakan sbg tempat untuk menginap dan tempat makan orang yg sedang dl perjalanan; bentuk akomodasi yg dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan, makan dan minum.
9. Kultur : Kebudayaan
10. Liburan : masa libur; vakansi
Disusun Oleh : Diana Stephanie Elissa Nindia Rarasati Marcury tya Nurhalimah Rafika Gisella

GLOSARIUM PARIWISATA II

1. Kampung Halaman : Daerah atau desa tempat kelahiran
2. Kepariwisataan : Segala hal yang berkaitan dengan Pariwisata, termasuk pelaku dan dunia usahanya.
3. Keragaman : Perbedaan atau heterogenitas dari Pariwisata.
4. Losmen : Akomodasi yang mempergunakan kamar-kamar rumah penduduk di destinasi wisata.
5. Mancanegara : Segala hal yang diselenggarakan di luar sebuah negara. Wisatawan dan wisata luar bermakna orang dan kegiatan yang dilakukan ke luar sebuah negara.
6. Marina : Akomodasi air diatas perairan.
7. Motel : Motor hotel, akomodasi yang berada di tepia jalan raya, menyediakan penginapan dan tempat parkir kendaraan.
8. Pariwisata : Beragam kegiatan perjalanan yang dilakukan di luar tempat tinggalnya selama lebih dari 24 jam untuk tujuan bersenang-senang dengan menggunakan berbagai fasilitas wisata, seperti transportasi dan akomodasi.
9. Pengunjung : Orang yang mendatangi sebuah daya tarik wisata untuk tujuan berlibur.
10. Pramuswisata : petugas pariwisata yg berkewajiban memberi petunjuk dan informasi yg diperlukan wisatawan. Pramuwisata disebut juga Pemandu Wisata atau Guide dalam Bahasa Inggris.
Disusun Oleh : Diana Stephanie Elissa Nindia Rarasati Marcury tya Nurhalimah Rafika Gisella

GLOSARIUM PARIWISATA III

1. Produk Wisata : Segala hal yang memiliki daya tarik untuk dilihat dan dinikmati dalam berbagai kegiatan wisata.
2. Psikografik : Karakteristik wisatawan dilihat dari kepribadiannya.
3. Rapuh : Sifat kegiatan wisata yang tidak dapat disimpan untuk dikonsumsi di kemudian hari.
4. Taman Air : Usaha daya tarik wisata alam dengan ekosistem perairan, seperti danau dan hutan bakau.
5. Taman Buru : Usaha daya tarik wisata alam untuk berburu.
6. Taman Hutan Raya : Usaha daya tarik wisata alam berupa hutan yang dilindungi.
7. Taman Nasional : Usaha daya tarik wisata alam dengan keunikan flora dan fauna endemik.
8. Taman Safari : Taman yang berisi hewan-hewan yang dipelihara di alam bebas.
9. Taman Wisata : Usaha daya tarik wisata yang menawarkan bentangan untuk rekreasi alam.
10. Wisata Tirta : Usaha fasilitas wisata yang memanfaatkan air, seperti pemandian, kolam renang, dan danau.
Disusun Oleh : Diana Stephanie Elissa Nindia Rarasati Marcury tya Nurhalimah Rafika Gisella

GLOSARIUM PARIWISATA IV

1. Kawasan Pariwisata : Area atau daerah yang dikembangkan untuk kepariwisataan.
2. Keatsirian : Sifat pelayanan wisata yang berubah-ubah.
3. Konsultan Wisata : Usaha yang memberikan konsultasi dalam penyelenggaraan dan pengelolaan Kepariwisataan.

4. Pabean : Kegiatan pemungutan nilai dan pajak bagi bawaan penumpang yang masuk ke sebuah negara.

5. Pariwisata ke Dalam batas : Inbound tourism. Kegiatan wisata dalam batas negara.

6. Pariwisata ke Luar batas : Outbound tourism. Kegiatan wisata yang dilakukan ke luar batas negara.

7. Pelaju / Pelancong : Orang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan atau tanpa menggunakan transportasi.

8. Wisata Religius : Kegiatan wisata bernuansa keagamaan, seperti naik haji dan retret.

9. Wisata Minat Khusus : Kegiatan wisata yang membutuhkan keterampilan khusus atau minat khusus dimana tidak setiap orang ingin dan mau melakukannya, seperti, menyelam dan menelusuri gua.

10. Wisatawan mancanegara : Warga negara suatu negara yang mengadakan perjalanan wisata keluar lingkungan dari negaranya (memasuki negara lain).

Disusun Oleh :

Diana Stephanie
Elissa Nindia Rarasati
Marcury tya
Nurhalimah
Rafika Gisella